HUTAN PERAHU

Proyek ini juga untuk memperkenalkan konsep hutan perahu. Yang pada prinsipnya membangun hutan dengan produksi kayu yang diarahkan untuk menjadi bahan kayu pembuatan perahu. Disamping jenisnya yang dipilih adalah pohon kayu Bitti yang secara tradisional menjadi bahan pembuatan perahu, juga ada perlakuan khusus untuk mengupayakan agar pertumbuhannya membentuk lengkungan2 yang dibutuhkan pada konstruksi kapal kayu.

Pelengkungan kayu yang semestinya dilakukan di tempat pengolahan kayu, masih akan dilakukan di saat pertumbuhan pohon. Sehingga pekerjaan industri masih dilaksanakan di kebun pohon. Ini akan melestarikan kesempatan kerja petani dan kaum marjinal.

Dalam berbagai tulisan dan wawancara ditemukan bahwa untuk menebang pohon Bitti untuk keperluan pembuatan perahu, sang pawang (Panrita Lopi) meluangkan waktu beberapa hari di hutan untuk menunggu ilham berupa petunjuk untuk memilih pohon Bitti mana yang cocok untuk perahu yang direncanakan. Bahkan ke arah mana pohon itu direbahkan pada waktu ditebang juga diperlukan ilham. Hal ini dipercaya akan memuluskan pembuatan perahu nantinya.

Menyimak budaya ini, kami menterjemahkannya sebagai mencari kayu yang batang dan cabang2nya sudah terbentuk dari pertumbuhannya sesuai bentuk perahu yang akan dibangun. Dengan demikian akan memudahkan pengerjaan dan disamping itu semua bagaian pohon akan berguna bagi pembuatan perahu yang direncanakan.

Untuk menunjang pemikiran itu maka kami sebagai orang yg berkecimpung dalam bidang ilmu teknik perkapalan berusaha mengembangkan metode mengawal pertumbuhan pohon Bitti sehingga batang dan cabang2nya sdh terbentuk sesuai kebutuhan konstruksi kapal kayu pada umumnya.

Itulah makanya pengembangan hutan dan upaya penghijauan ini kami branding dgn nama HUTAN PERAHU.

Karena usaha penghijauan ini memanfaatkan partisipasi masyrakat petani dimana lahan yang ditanami adalah lahan kebun petani maka bentuknya adalah Hutan Rakyat. Dimana lahan2 yang ditanami akan menjadi Kebun Kayu Bitti milik masing2 petani.